Jumat, 18 Januari 2019

Panggilanku untuk Memberamo-Papua





 PANGGILANKU UNTUK MEMBERAMO






Kampung Fuau, Distrik Dabra Memberamo Hulu, Kabupaten Memberamo Raya, Provinsi Papua merupakan wilayah pedalaman yang terdapat di Memberamo. Makanan pokok warga adalah Sagu atau Papeda. Sungai Memberamo merupakan salah satu tempat mereka bergantung hidup. Mereka bisa berburu Buaya untuk kulitnya bisa dijual dan dagingnya untuk dimakan. Hutan yang sangat alami menjadi tempat mereka untuk berburu banyak hewan seperti babi hutan, rusa, burung kasuari, lau-lau (sejenis kangooro) dan tikus pohon dan Hutan juga bisa menjadi tempat mereka bisa menanam pisang untuk bantuan makanan pokok mereka. Rawa dan aliran sungai Dijai yang menjadi tempat mereka menangkap berbagai jenis ikan seperti tawes, lele, mujahir, gabus dll.

Perkenalkan nama saya Nia Paramita LumbanTobing. Saya salah satu Guru yang mengabdikan diri dan dengan sepenuh hati memberi hati saya untuk anak-anak di Pedalaman. Tepat tanggal 11 Januari 2018 saya menginjakkan kaki di Kampung Fuau dan memulai perjalanan saya dan hidup menyatu bersama masyarakat di Kampung Fuau. Saya akan menceritakan awal saya berada dan ikut gabung dalam pelayanan dan pendidikan di Pedalaman Kampung Fuau. Jauh sebelumnya saya memiliki kerinduan untuk bisa berkontribusi untuk anak-anak Papua dan memutuskan untuk ambil jurusan Pendidikan. Tahun 2011 saya memulai perkuliahan saya dan menyelesaikannya di tahun 2015. Setelah itu seakan saya belum bisa menemukan jawaban dari kerinduan saya selama ini. Dan saya sempat mengajar di salah satu sekolah yang ada di Pekanbaru-Riau dan itu tidak berlangsung lama, hingga ditahun 2016 saya memulai pekerjaan baru di dunia Marketing di salah satu perusahaan yang ada di Pekanbaru. Hingga menjelang tahun 2017 akhir, saya tiba-tiba mendapat tawaran dari Saudara Sepupu saya Andika Tampubolon yang sekarang menjadi partner saya mengajar di Kampung Fuau. Andika menjelaskan bahwa ada kesempatan bagi saya untuk bisa gabung dalam pendidikan anak-anak di Pedalaman Papua. Puji Tuhan..
Tidak terduga dan menurut pikiran logika saya, serasa itu tidak mungkin bisa terjadi. Akan tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Jika ketika menjadi kehendakNya itu akan terjadi. Tidak ada yang kebetulan karena semuanya itu bagian dari rencana Tuhan. Sekalipun sebagian keluarga tidak setuju dan teman-teman saya menertawakan saya tapi itu bukan penghalang bagi saya. Karena inilah hari yang kutunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Dan tidak lupa saya akan coba berbagi perjalanan saya dan khususya menginformasikan permasalahan-permasalahan yang saya temui sepanjang selama saya berada di Pedalaman Kampung Fuau. Saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yesus untuk panggilan ini. Saya merasa sangat beruntung bisa memiliki tanggung jawab ini. Saya juga berterimakasih kepada Bapak Pdt. Trevor Christian Jhonson dan Tim sudah berjuang menyediakan Sponsor untuk pelayanan kami di Memberamo

Lebih tepatnya saya akan menceritakan berbagai permasalahan-permasalahan yang saya temukan selama berada di Kampung Fuau lebih tepatnya permasalahan itu terjadi secara menyeluruh di seluruh Memberamo-Papua.

A. Pendidikan
Saya akan lebih dulu menjelaskan pokok ini karena tepatnya saya memiliki peranan Penting berjalannya proses belajar mengajar di Kampung Fuau. SD Negeri Fuau memiliki 2 ruangan saja dengan Kepala Sekolah yang Bernama Koresh Wau, beliau merupakan warga asli Fuau yang sudah lama menjabat sebagai Kepala sekolah. Berdasarkan pernyataan Kepala sekolah bahwa ada Guru Honorer yang seharusnya membantu mengajar dan namanya itu sudah terdaftar di Dinas Pendidikan. Akan tetapi sang Guru bantu tersebut tidak pernah aktif mengajar dan memilih tinggal di Perkotaan dengan menerima gaji setiap bulannya.

Dan mendengar penjelasan semua warga di kampong menyatakan bahwa Kepala sekolah sangat jarang aktif mengajar disekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk tinggal di Kabupaten sehingga anak-anak tidak  pernah sekolah. Dan pernyataan mereka sangat saya benarkan bahwa itu benar-benar terjadi. Terhitung setahun saya berada di Pedalaman Kampung Fuau dan selama itu juga saya bisa menghitung berapa kali beliau aktif berada disekolah. Sepanjang tahun 2018 hanya terhitung 2 bulan saja berada di Kampung Fuau. Sehingga yang benar-benar mengurus sekolah dan anak-anak adalah saya dan Saudara saya Andika Tampubolon.
Warga selalu mengeluhkan kinerja para Guru yang pernah mengajar dan sebelumnya banyak Guru yang pernah terlibat dalam mengajar disana akan tetapi tidak bertahan lama, mereka lebih memilih menghabiskan profesinya di Kota dengan penghasilan tiap bulan tanpa mengajar. Warga sudah hilang kepercayaan dengan kiriman Guru dari Pemerintah karena nayatanya tidak pernah melakukan pekerjaannya. Saya sebagai seorang tamatan Pendidikan merasa tidak terima dengan kasus-kasus Guru yang ada disini, sangat disayangkan. Selama proses menuntut ilmu Guru diajarkan banyak hal terutama dengan cinta akan Tuhan, karakter, Moral dan menjadi teladan bagi semua orang. Menjadi Guru adalah panggilan istimewa dimana ketika seseorang terpanggil menjadi seorang Guru, ia akan memahami betapa besarnya beban, tanggung jawab dan kepercayaan yang Tuhan berikan di dalam hati seorang Guru.
Guru yang mengerti dengan panggilan ini tidak akan menganggap remeh dengan profesi itu. Mendidik itu merupakan tanggung jawab besar. Tanggung jawabnya bukan hanya kepada orang tua atau instansi terkait dll, akan tetapi yang terutama adalah kepada Tuhan.
Tepat bulan Mei 2018, kami menemani anak-anak kelas VI SD untuk mengikuti Ujian Nasional yang diadakan di sekolah yang berada di Distrik tepatnya Distrik Dabra. Jarak tempuh dari kampong Fuau sekitar 10 jam perjalanan menuju Dabra. Saya menemukan lebih banyak kasus Pendidikan yang ada di Memberamo. Jadwal Ujian Nasionalnya tidak terlaksana sesuai dengan jadwal se-Nasional, akan tetapi mereka mengundur jadwal pelaksanaan Ujiannya dikarenakan pengawas dari Dinas tidak kunjung tiba di lokasi. Dan setelah kehadiran Pihak Pengawas, pelaksanaan ujian tidak berlangsung sesuai yang diharapkan. Lebih tepatnya sangat jauh dari syarat dan ketentuan yang diberlakukan Pemerintah Nasional. Ada beberapa Guru yang mengikuti UN bersama siswa untuk menggantikan anak yang tidak pernah sama sekali berada di sekolah dalam proses belajar mengajar, tetapi Guru tersebut menggantikan sang anak untuk mendapatkan Ijazah. Kasus seperti ini baru kali pertama saya temukan.
Dan saya menemukan kasus baru disana yaitu seorang Guru Honorer yang terdaftar mengajar di Kampung Fuau tetapi tidak pernah aktif mengajar. Bapak yang mengaku Guru tersebut datang saat pelaksanaan Ujian Nasional berlangsung dan itu bagi saya sangat menjengkelkan. Pernyataan anak-anak menyatakan bahwa beliau tidak pernah ada disekolah, akan tetapi setiap ada Pelaksanaan Ujian yang diawasi Dinas Pendidikan, Guru itu sangat rajin menunjukkan wajahnya di depan pengawas tiap tahunnya. Dan ia mengancam Kepala sekolah apabila Gajinya tidak diberikan. Saat itu kepala sekolah mengambil keputusan untuk menghapus nama beliau dari kontrak Honornya. Dengan raut wajah yang merasa tidak bersalah memohon untuk mempertahankan status dan kontraknya sebagai Guru Honorer di kampung Fuau dengan alasan anaknya perlu dana untuk biaya kuliah. Bagaimana seorang Guru yang merasa memiliki tanggung jawab untuk anak-anaknya dirumah dan tidak memikirkan nasib anak-anak yang harusnya menjadi tanggung jawabnya untuk para generasi?
Mendapatkan dana yang bukan hasil kerjanya sendiri dipakai untuk biaya anak-anak dan keluarganya. Saya pikir Guru tersebut tidak layak dikatakan Guru, dan lebih layaknya perusak masa depan generasi.
Karena kasus-kasus diatas menyimpulkan bahwa semakin bertambah tahun bertambahnya umur anak-anak dan semakin tua. Yang seharusnya sebagian anak sudah berada di bangku SMP bahkan SMA akan tetapi masih berjuang di Pendidikan Dasar bahkan belajar membaca dan berhitung, daya tangkap dan daya ingat semakin melemah itu membuat saya semakin ingin berada disebelah mereka untuk membimbing mereka selangkah demi langkah.
Saya menemukan kecerdasan dan talenta yang Tuhan tanamkan dalam diri anak-anak. Semakin hari mereka semakin merasakan kemudahan dalam belajar. Secara tidak sadar mereka telah mengubah kebiasaan mereka dari sibuk kerja dihutan dan bermain berubah menjadi kebiasaan mengisi waktu kosong dengan membaca alkitab, menghapal perkalian, menjawab soal-soal dibuku dan menjawab soal-soal hasil ide sendiri. Puji Tuhan, keberadaan kami sangat membantu anak-anak di Kampung Fuau. Warga sangat menerima kami dan memperlakukan baik terhadap kami.
Berhubung sekolah hanya 2 ruangan saja, dan kami hanya 2 orang guru yaitu Saya dan Sepupu saya Andika. Kami membagi jadwal mengajar dengan masing-masing memegang 1 ruangan dengan melakukan proses belajar mengajar dengan tiga kelas dalam sehari. Saya memegang kelas I, kelas III, dan kelas V sementara Andika kelas II, kelas IV dan kelas VII. Dari jam 07.30 pagi sampai jam 14.00 siang. Dan dilanjut sore hari kami memakai gedung Gereja untuk belajar les tambahan anak-anak pada jam 16.00-18.00 sore. Dan anak-anak tetap tidak merasa puas dan ingin tetap belajar lagi dengan ramai-ramai di malam hari sambil membawa buku kerumah kami untuk belajar lagi.

Untuk fasilitas sekolah, kami tidak menemukan fasilitas lain selain gedung sekolah. Untuk keperluan anak-anak mulai dari buku dan alat tulis, sekolah jarang menyediakan, ya pastinya dikarenakan Keberadaan Kepala Sekolah di Kota dengan alasan menunggu dana Sekolah. Ketika dana sekolah sudah didapatkan ada lagi masalah lain yaitu Kepala sekolah tidak bisa mengolah baik keuangan sekolah. Ketika di Sekolah di Distrik saya juga menemukan permasalahan yang sama dengan kinerja Guru Honor di Kampung Fuau. Lebih banyak hari Libur disbanding hari aktif belajar. Saya mengatakan bahwa manajemen Pendidikan di Memberamo sangat kacau.
Tepat tanggal 12 –22 Desember 2018, kami berkunjung ke Pedalaman Kampung Biri yang merupakan bagian dari Memberamo juga, tempat Ibu Djenny Balla melayani. Disana sekolah hanya ada gedungnya saja tetapi yang menjalankan sekolah tidak ada. Kasus pendidikan menyeluruh sama. Kerinduan masyarakat Memberamo yaitu anak-anak mereka bisa sekolah menempuh pendidikan yang layak sesuai dengan UUD 1945.
Ibu Djenny Balla adalah pelayan setia yang kurang lebih 25 tahun memberi hidupnya untuk Memberamo. Bu Djenny menjadi tokoh inspirasi bagi saya, selama saya ditempat pelayanan bu Djenny, saya sangat bangga mengenalnya. Banyak hal yang sudah dikorbankan demi pelayanannya. tenaga, keluarga, masa hidupnya hingga masa tuanya yang saat ini dipakainya untuk melayani di Memberamo. Saya juga berharap ada Guru yang bisa membantunya disana untuk anak-anak dikampung biri. Saat ini tidak ada gedung gereja di kampung Biri, mereka memakai gedung sekolah yang sudah rusak untuk beribadah setiap minggu.

Anak-anak dikampung Biri tidak pernah sekolah, mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia, saat kami disana, kami cukup kesulitan untuk mengajari anak-anak, dan kami memakai waktu singkat kami untuk memahami Bahasa mereka dan mengajak mereka belajar bersama.


Saya juga akan menyinggung beberapa anak yang cukup bisa diandalkan kepandaiannya. Beberapa anak yang sangat bagus mulai dari daya tangkap, daya ingat, karakternya yang bagus yang cocok menjadi teladan juga bagi anak-anak lain.
Penina Guani yang merupakan anak dari Pak Bastian Guani (pelayan setia yang memberi hati untuk melayani di kampung Fuau di Gereja GIDI,tamatan STAKIN Sentani). Penina sekarang duduk di bangku kelas VI SD, anaknya sangat mudah diarahkan, pintar, karakternya bagus. Dan merupakan anak yang memiliki peringkat paling tinggi dari semua anak di Sekolah Kampung Fuau. Cita-citanya adalah menjadi seorang Missionaris dan Guru Pedalaman. Penina memiliki kerinduan untuk seperti Ayahnya yang setia melayani Tuhan. Hobbynya membaca alkitab dan belajar.
Saya hanya mengambil satu orang anak sebagai perwakilan dari banyak anak. Saya mengakui begitu banyak perkembangan anak-anak saat ini. Tidak susah mengajak mereka belajar, justru mereka yang mengajak saya untuk tetap belajar bersama-sama.  Mereka memiliki kebiasaan bercerita dan membantu saya memasak dirumah. Ketika bernyanyi suara mereka sangat menyentuh hati. Anak-anak pernah menyampaikan kepada saya bahwa mereka ingin tetap bisa merasakan pendidikan yang lebih baik ke depan dan berdoa agar Tuhan selalu campur tangan dengan setiap usaha mereka. Saya sangat bersyukur memiliki mereka hingga saat ini berada dan masuk dalam kehidupan mereka.


B. Kesehatan
Berikut saya akan menjabarkan sedikit mengenai keadaan kesehatan masyarakat di Kampung Fuau-Memberamo. Terdapat 1 gedung Posyandu yang tidak pernah dihuni oleh bagian kesehatan. Sehingga gedung itu sekarang kami Guru pakai untuk tempat tinggal di Kampung Fuau. Sekian puluh tahun tidak pernah merasakan pelayanan perawat ataupun suster di Kampung Fuau. Mulai dari Ibu melahirkan, anak-anak sakit parah, orang tua hingga sampai kakek nenek.

Saya menemukan banyak kejadian disana dalam setahun.
1. Seorang anak bayi bernama Feby yang umur 3tahun meninggal dunia karena dehidrasi dan step atau reaksi kejang. Dalam tiga hari lamanya tidak bisa makan dan minum karena keadaan yang semakin memburuk. Orang tua hanya bisa menangisi nasib anaknya tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan akhirnya harus menyelesaikan masanya di dunia ini dengan umurnya yang singkat.
2. Saudara Saya Andika sekaligus rekan saya mengajar di Kampung Fuau mengalami penyakit malaria tropica +4. Menunggu seminggu lamanya hingga akhirnya bisa dijemput pihak penerbangan Yajasi untuk dibawa ke Sentani.
3. Bapak Daniel Guani, yang merupakan tokoh penting di Kampung dan ayah dari 8 orang anak, meninggal dunia karena diserang Babi Hutan saat berburu di Hutan hingga kehabisan darah. Kini sang Istri yang berjuang sendiri dengan keadaan hamil untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
4. Dorkash Guani yang Ibu dari satu orang anaknya yang umur anaknya 2tahun meninggal dunia karena gigitan ular berbisa saat tokok sagu dihutan.
5. Teteh (Kakek) Herman mengalami sakit parah karena infeksi luka yang sudah lama dibiarkan karena serangan binatang buas.
6. Semua warga Kampung mulai dari Bayi hingga Dewasa yang ketika sakit tidak pernah dibantu oleh perawat. Masa anak-anak yang belum pernah merasakan namanya Imunisasi.
Poin-poin diatas adalah paling sedikit dari banyaknya kejadian yang mereka saksikan dan alami sendiri. Banyak resiko yang mereka tanggung ketika untuk mempertahankan hidupnya dengan menikmati hasil alam. Anak-anak yang sudah kehilangan orang tua, sakit tanpa ada perawatan dari Bidan.


C. Pelayanan Gereja
Kampung Fuau memiliki dua gereja yaitu gereja GIDI dan GKI. GIDI digembalakan oleh Bapak Yahya Wau dan dibantu oleh Bapak bastian Guani. Mereka adalah pelayan yang setia, dan tidak pernah terpikirkan mereka sedikitpun untuk melepaskan diri dari pelayanan itu, sudah melekat dengan hati mereka. Gereja GIDI gedungnya sudah sangat lama dan perlu diperbaiki. Saya ingat kerinduan yang sering Pak Bastian ungkapkan yaitu perbaikan gedung gereja dan memiliki penutup altar gereja. Andika juga membantu dalam pembagian Firman digereja dan saya membantu menangani anak-anak sekolah minggu.
Sedangkan Gereja GKI digembalakan oleh Bapak Filemon Wau yang merupakan warga asli Fuau juga. Dalam kasus baru-baru ini, Gereja GKI sedang tahap pembangunan dengan dana pemerintah akan tetapi pembangunan harus berhenti dikarenakan penggelapan dana pembangunan oleh pihak proyek pengerja. Hingga saat ini masih berhenti dan tidak bisa dilanjutkan pembangunannya.
D. Manajemen Desa
Kejadian-kejadian yang baru-baru ini terjadi yaitu Kepala Desa yang tidak menggunakan Dana Desa dengan sebaik-baiknya. Memilih lebih banyak menghabiskan waktunya di kota juga. Dana Desa yang sangat besar sekali tetapi tidak ada wujud pembangunan dan perubahan yang terjadi di Kampung Fuau. Mulai dari pembangunan jalan, gedung perangkat desa, pemenuhan bantuan transportasi dan pembangunan Gereja bantuan dari pemerintah itu tidak terjadi apa-apa.
Saya mendapat pengakuan sebagian warga ketika warga ingin mengadakan pergantian Kepala Desa, akan tetapi Kepala Desa tidak mau diganti dan mengancam warga dengan banyak hal. Sebagai masyarakat yang buta huruf dan kurangnya pendidikan membuat mereka berjalan dengan waktu dan kejadian didepan mata tanpa tahu harus bagaimana mereka menyikapi masalah-masalah di Kampung mereka.

Permasalahan itu menjadi permasalahan yang paling menonjol yang saya temukan. Berharap banyak kalangan yang bisa memberi hati untuk membantu pendididikan anak-anak, kesehatan dll di Kampung Fuau dan Pedalaman Memberamo lain. Mereka sangat kesulitan dalam banyak hal. Mandi tanpa sabun, mau cuci baju tapi terbatas baju cadangan untuk ganti. Anak-anak sekolah tidak banyak pakai seragam dan dengan fasilitas buku yang sangat terbatas.
Berharap pemerintah lebih membuka mata untuk tempat-tempat yang terisolir yang di sekelilingnya banyak oknum-oknum yang mementingkan kepentingan pribadi dibanding kepentingan rakyat. Sekian kesaksian dari pengalaman saya selama di Memberamo sepanjang 2018, Tuhan memberkati setiap pelayanan-pelayanan diseluruh pelosok Negeri khususnya di Papua dan terlebih khususnya di Pedalaman Memberamo.  Sekian dan Terimakasih. Tuhan Memberkati.