Sabtu, 14 Maret 2020

KASIH TUHAN MEMILIKI DAMPAK BESAR



 

Menghabiskan hari-hari bersama anak-anak tidaklah membuat kita menjadi pribadi yang salah arah, tetapi kita bisa menemukan kesenangan setiap hari. Ya seperti anak-anak pada umumnya, tidak memikirkan banyak beban, hanya perlu bersenang-senang dan menikmati tawa setiap saat bersama teman-teman baik di lingkungan sekolah maupun rumah. Bersama anak-anak kita juga merasakan kasih anak itu terhadap kita. Jika mungkin anda Tanya, saya terlalu pede untuk mengatakan bahwa anak itu mengasihi kita, buktinya untuk apa dia repot-repot mau tetap bergabung setiap saat dan mengajak tertawa bersama dan bahkan tidak ada tanda bahwa anak akan menyakiti kita? Bukankah menerima itu adalah kasih.
Anak lebih dan sangat lebih polos dibandingkan kita yang dewasa, jika anak tidak suka, dia akan menunjukkan rasa tidak suka. Beda dengan kita orang dewasa, banyak yang menyembunyikan rasa tidak suka dan berpura-pura senang padahal tidak senang. Jika anda membaca ini, anda bisa menilai diri anda sendiri. Karena saya mengatakan ini berdasarkan pengalaman diri saya sendiri, saya pikir anda juga pernah.
Tidak bisa saya pastikan bahwa tawa anak itu masih berlanjut di dalam rumah, tapi yang saya tahu mereka masih tetap bisa menunjukkan tawa bahagia mereka bersama saya.
Saya punya satu ilustrasi tentang seorang anak asli anak pedalaman, tepatnya di tempat saya melayani dan mengajar di Papua (Kampung Fuau). Namanya Yohana, kira-kira umurnya 6 tahun. Pertama sekali saya bertemu dia, saya mengenalnya sosok anak yang suka tertawa dan dia membuat saya semakin tertarik dengan kepribadian Yohana yang ceria.
Hingga suatu ketika saya memiliki kesempatan bercerita dengan masyarakat di kampung, saya menanyakan bagaimana latar belakangnya Yohana    . Dan ternyata Yohana bukan anak kandung dari orang tua yang tinggal dengannya, tetapi dia adalah seorang anak angkat yang di titipkan ke keluarganya. Maksudnya, seorang Bapak mengandopsi Yohana dari keluarga  kampong seberang, dan si Bapak ini bukannya merawat anak dengan baik, akan tetapi menitipkan ke keluarganya. Istilahnya anak adopsi di adopsi lagi. Hingga yang saya dengar di dalam rumahnya dia anak yang tidak diperhatikan oleh siapapun. Keluarga yang bersama dia tidak memperlakukannya dengan kasih, malah membuatnya menjadi anak yang setiap hari tertekan. Yang kebetulan tempat Yohana tinggal berdekatan dengan tempat saya tinggal, hampir setiap hari saya sering mendengarnya dipukuli dan menangis, bahkan sanggup menangis hingga pagi. Saya pikir siapakah yang malang disini ? anak yang malang atau orang tua yang malang ? atau apa saja, dan banyak yang menjadi pertanyaan dalam hati saya.
Jujur, saya sangat tidak kuat ketika mendengar tangisan Yohana yang terdengar setiap hari bahkan malam. Saya rasa ingin pergi ke rumahnya dan memeluknya dan ingin mengatakan bahwa saya sangat mengasihi dia. Saya tahu bahwa tidak ada yang benar-benar mau mengungkapkan kasih ke Yohana. Tapi saya sering mengatakan padanya bahwa Tuhan Yesus lebih dan lebih mengasihi Yohana. Saya bisa melihat senyumnya dan bisa mendengar tawanya ketika dia berada diluar rumah. Saya bisa bayangkan bagaimana ketika saya menjadi Yohana, mungkin saya akan berpikir bagaimana caranya supaya saya bisa menghabiskan waktu saya diluar rumah. Karena di luar rumah membuatnya lebih nyaman dan lupa akan rasa sakit dan tindasan keluarga ketika di dalam rumah.
Saya bisa lihat seorang anak juga behasil menyimpan rasa sakitnya  sendiri dan tidak mengumbar rasa sakit itu ke orang lain. Kita orang dewasa saja yang sering menyembunyikan rasa sakit sendiri, pasti kita akan mengatakan bahwa semakin kita menyimpannya sendiri, maka rasa sakit itu akan menyakiti kita. Bagaimana dengan Yohana dan anak yang lainnya yang merasakan nasib yang sama?
Kita dewasa masih memiliki banyak pertimbangan dan pemikiran yang lebih luas dibanding anak. Kita akan mencari teman untuk berbagi bahkan kita akan melibatkan keluarga kita juga.  Tetapi bagaimana dengan Yohana-Yohana yang diluar sana, kepada siapa mereka mengadu? Siapa yang membujuk mereka ketika merajuk, siapa yang merawat mereka ketika merasa sakit? Sesungguhnya masa anak-anak adalah masa yang tepat untuk menikmati kasih sayang itu dari orang tua dan keluarga.
Saya sangat beruntung memiliki orang tua yang memperjuangkan saya sangat baik, menyayangi saya sepenuh hati  walau dalam situasi yang sulit.  Dan saya tidak menyesali hal-hal yang sudah saya lewati, bahkan sekalipun keluarga saya tidak mampu, tetapi saya memiliki cinta dan kasih dari keluarga saya. Melalui mereka saya mengenal Tuhan, dan mengetahui bahwa kasih Tuhan yang mereka terima itu yang mereka berikan buat saya. Oh betapa sangat manisnya bukan ? Kasih Tuhan memang sangat berpengaruh besar bagi keluarga saya dan saya secara pribadi.
Saya tau Yohana tidak bisa menerima kasih dari keluarganya secara utuh, tapi saya tahu bahwa Tuhan telah memakai orang sekitarnya dan saya untuk memberikan dan mengenalkan kasih Tuhan akan dia.
Secara tidak sadar kita tidak mengetahui bahwa Tuhan sering memakai kita menjadi alatNya untuk menolong orang lain. Kasih yang kumiliki sekarang dan kasih yang anda miliki sekarang itu  adalah Kasih yang sudah Tuhan tanamkan dalam hati kita.
Saya pikir, jika saya tidak memiliki kasih Yesus, saya tidak akan mau repot-repot untuk datang ke pedalaman ini untuk menolong anak-anak dan masyarakat disini. Tapi mungkin saya akan memilih menikmati kehidupan enak di luar sana dan bersenang-senang untuk kepentingan sendiri.
Tapi Kasih Tuhan membuat saya dan anda semakin peka akan suara Tuhan, dan memahami akan tugas dan tanggung jawab sebagai anak yang dikasihi Tuhan.

Jumat, 18 Januari 2019

Panggilanku untuk Memberamo-Papua





 PANGGILANKU UNTUK MEMBERAMO






Kampung Fuau, Distrik Dabra Memberamo Hulu, Kabupaten Memberamo Raya, Provinsi Papua merupakan wilayah pedalaman yang terdapat di Memberamo. Makanan pokok warga adalah Sagu atau Papeda. Sungai Memberamo merupakan salah satu tempat mereka bergantung hidup. Mereka bisa berburu Buaya untuk kulitnya bisa dijual dan dagingnya untuk dimakan. Hutan yang sangat alami menjadi tempat mereka untuk berburu banyak hewan seperti babi hutan, rusa, burung kasuari, lau-lau (sejenis kangooro) dan tikus pohon dan Hutan juga bisa menjadi tempat mereka bisa menanam pisang untuk bantuan makanan pokok mereka. Rawa dan aliran sungai Dijai yang menjadi tempat mereka menangkap berbagai jenis ikan seperti tawes, lele, mujahir, gabus dll.

Perkenalkan nama saya Nia Paramita LumbanTobing. Saya salah satu Guru yang mengabdikan diri dan dengan sepenuh hati memberi hati saya untuk anak-anak di Pedalaman. Tepat tanggal 11 Januari 2018 saya menginjakkan kaki di Kampung Fuau dan memulai perjalanan saya dan hidup menyatu bersama masyarakat di Kampung Fuau. Saya akan menceritakan awal saya berada dan ikut gabung dalam pelayanan dan pendidikan di Pedalaman Kampung Fuau. Jauh sebelumnya saya memiliki kerinduan untuk bisa berkontribusi untuk anak-anak Papua dan memutuskan untuk ambil jurusan Pendidikan. Tahun 2011 saya memulai perkuliahan saya dan menyelesaikannya di tahun 2015. Setelah itu seakan saya belum bisa menemukan jawaban dari kerinduan saya selama ini. Dan saya sempat mengajar di salah satu sekolah yang ada di Pekanbaru-Riau dan itu tidak berlangsung lama, hingga ditahun 2016 saya memulai pekerjaan baru di dunia Marketing di salah satu perusahaan yang ada di Pekanbaru. Hingga menjelang tahun 2017 akhir, saya tiba-tiba mendapat tawaran dari Saudara Sepupu saya Andika Tampubolon yang sekarang menjadi partner saya mengajar di Kampung Fuau. Andika menjelaskan bahwa ada kesempatan bagi saya untuk bisa gabung dalam pendidikan anak-anak di Pedalaman Papua. Puji Tuhan..
Tidak terduga dan menurut pikiran logika saya, serasa itu tidak mungkin bisa terjadi. Akan tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Jika ketika menjadi kehendakNya itu akan terjadi. Tidak ada yang kebetulan karena semuanya itu bagian dari rencana Tuhan. Sekalipun sebagian keluarga tidak setuju dan teman-teman saya menertawakan saya tapi itu bukan penghalang bagi saya. Karena inilah hari yang kutunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Dan tidak lupa saya akan coba berbagi perjalanan saya dan khususya menginformasikan permasalahan-permasalahan yang saya temui sepanjang selama saya berada di Pedalaman Kampung Fuau. Saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yesus untuk panggilan ini. Saya merasa sangat beruntung bisa memiliki tanggung jawab ini. Saya juga berterimakasih kepada Bapak Pdt. Trevor Christian Jhonson dan Tim sudah berjuang menyediakan Sponsor untuk pelayanan kami di Memberamo

Lebih tepatnya saya akan menceritakan berbagai permasalahan-permasalahan yang saya temukan selama berada di Kampung Fuau lebih tepatnya permasalahan itu terjadi secara menyeluruh di seluruh Memberamo-Papua.

A. Pendidikan
Saya akan lebih dulu menjelaskan pokok ini karena tepatnya saya memiliki peranan Penting berjalannya proses belajar mengajar di Kampung Fuau. SD Negeri Fuau memiliki 2 ruangan saja dengan Kepala Sekolah yang Bernama Koresh Wau, beliau merupakan warga asli Fuau yang sudah lama menjabat sebagai Kepala sekolah. Berdasarkan pernyataan Kepala sekolah bahwa ada Guru Honorer yang seharusnya membantu mengajar dan namanya itu sudah terdaftar di Dinas Pendidikan. Akan tetapi sang Guru bantu tersebut tidak pernah aktif mengajar dan memilih tinggal di Perkotaan dengan menerima gaji setiap bulannya.

Dan mendengar penjelasan semua warga di kampong menyatakan bahwa Kepala sekolah sangat jarang aktif mengajar disekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk tinggal di Kabupaten sehingga anak-anak tidak  pernah sekolah. Dan pernyataan mereka sangat saya benarkan bahwa itu benar-benar terjadi. Terhitung setahun saya berada di Pedalaman Kampung Fuau dan selama itu juga saya bisa menghitung berapa kali beliau aktif berada disekolah. Sepanjang tahun 2018 hanya terhitung 2 bulan saja berada di Kampung Fuau. Sehingga yang benar-benar mengurus sekolah dan anak-anak adalah saya dan Saudara saya Andika Tampubolon.
Warga selalu mengeluhkan kinerja para Guru yang pernah mengajar dan sebelumnya banyak Guru yang pernah terlibat dalam mengajar disana akan tetapi tidak bertahan lama, mereka lebih memilih menghabiskan profesinya di Kota dengan penghasilan tiap bulan tanpa mengajar. Warga sudah hilang kepercayaan dengan kiriman Guru dari Pemerintah karena nayatanya tidak pernah melakukan pekerjaannya. Saya sebagai seorang tamatan Pendidikan merasa tidak terima dengan kasus-kasus Guru yang ada disini, sangat disayangkan. Selama proses menuntut ilmu Guru diajarkan banyak hal terutama dengan cinta akan Tuhan, karakter, Moral dan menjadi teladan bagi semua orang. Menjadi Guru adalah panggilan istimewa dimana ketika seseorang terpanggil menjadi seorang Guru, ia akan memahami betapa besarnya beban, tanggung jawab dan kepercayaan yang Tuhan berikan di dalam hati seorang Guru.
Guru yang mengerti dengan panggilan ini tidak akan menganggap remeh dengan profesi itu. Mendidik itu merupakan tanggung jawab besar. Tanggung jawabnya bukan hanya kepada orang tua atau instansi terkait dll, akan tetapi yang terutama adalah kepada Tuhan.
Tepat bulan Mei 2018, kami menemani anak-anak kelas VI SD untuk mengikuti Ujian Nasional yang diadakan di sekolah yang berada di Distrik tepatnya Distrik Dabra. Jarak tempuh dari kampong Fuau sekitar 10 jam perjalanan menuju Dabra. Saya menemukan lebih banyak kasus Pendidikan yang ada di Memberamo. Jadwal Ujian Nasionalnya tidak terlaksana sesuai dengan jadwal se-Nasional, akan tetapi mereka mengundur jadwal pelaksanaan Ujiannya dikarenakan pengawas dari Dinas tidak kunjung tiba di lokasi. Dan setelah kehadiran Pihak Pengawas, pelaksanaan ujian tidak berlangsung sesuai yang diharapkan. Lebih tepatnya sangat jauh dari syarat dan ketentuan yang diberlakukan Pemerintah Nasional. Ada beberapa Guru yang mengikuti UN bersama siswa untuk menggantikan anak yang tidak pernah sama sekali berada di sekolah dalam proses belajar mengajar, tetapi Guru tersebut menggantikan sang anak untuk mendapatkan Ijazah. Kasus seperti ini baru kali pertama saya temukan.
Dan saya menemukan kasus baru disana yaitu seorang Guru Honorer yang terdaftar mengajar di Kampung Fuau tetapi tidak pernah aktif mengajar. Bapak yang mengaku Guru tersebut datang saat pelaksanaan Ujian Nasional berlangsung dan itu bagi saya sangat menjengkelkan. Pernyataan anak-anak menyatakan bahwa beliau tidak pernah ada disekolah, akan tetapi setiap ada Pelaksanaan Ujian yang diawasi Dinas Pendidikan, Guru itu sangat rajin menunjukkan wajahnya di depan pengawas tiap tahunnya. Dan ia mengancam Kepala sekolah apabila Gajinya tidak diberikan. Saat itu kepala sekolah mengambil keputusan untuk menghapus nama beliau dari kontrak Honornya. Dengan raut wajah yang merasa tidak bersalah memohon untuk mempertahankan status dan kontraknya sebagai Guru Honorer di kampung Fuau dengan alasan anaknya perlu dana untuk biaya kuliah. Bagaimana seorang Guru yang merasa memiliki tanggung jawab untuk anak-anaknya dirumah dan tidak memikirkan nasib anak-anak yang harusnya menjadi tanggung jawabnya untuk para generasi?
Mendapatkan dana yang bukan hasil kerjanya sendiri dipakai untuk biaya anak-anak dan keluarganya. Saya pikir Guru tersebut tidak layak dikatakan Guru, dan lebih layaknya perusak masa depan generasi.
Karena kasus-kasus diatas menyimpulkan bahwa semakin bertambah tahun bertambahnya umur anak-anak dan semakin tua. Yang seharusnya sebagian anak sudah berada di bangku SMP bahkan SMA akan tetapi masih berjuang di Pendidikan Dasar bahkan belajar membaca dan berhitung, daya tangkap dan daya ingat semakin melemah itu membuat saya semakin ingin berada disebelah mereka untuk membimbing mereka selangkah demi langkah.
Saya menemukan kecerdasan dan talenta yang Tuhan tanamkan dalam diri anak-anak. Semakin hari mereka semakin merasakan kemudahan dalam belajar. Secara tidak sadar mereka telah mengubah kebiasaan mereka dari sibuk kerja dihutan dan bermain berubah menjadi kebiasaan mengisi waktu kosong dengan membaca alkitab, menghapal perkalian, menjawab soal-soal dibuku dan menjawab soal-soal hasil ide sendiri. Puji Tuhan, keberadaan kami sangat membantu anak-anak di Kampung Fuau. Warga sangat menerima kami dan memperlakukan baik terhadap kami.
Berhubung sekolah hanya 2 ruangan saja, dan kami hanya 2 orang guru yaitu Saya dan Sepupu saya Andika. Kami membagi jadwal mengajar dengan masing-masing memegang 1 ruangan dengan melakukan proses belajar mengajar dengan tiga kelas dalam sehari. Saya memegang kelas I, kelas III, dan kelas V sementara Andika kelas II, kelas IV dan kelas VII. Dari jam 07.30 pagi sampai jam 14.00 siang. Dan dilanjut sore hari kami memakai gedung Gereja untuk belajar les tambahan anak-anak pada jam 16.00-18.00 sore. Dan anak-anak tetap tidak merasa puas dan ingin tetap belajar lagi dengan ramai-ramai di malam hari sambil membawa buku kerumah kami untuk belajar lagi.

Untuk fasilitas sekolah, kami tidak menemukan fasilitas lain selain gedung sekolah. Untuk keperluan anak-anak mulai dari buku dan alat tulis, sekolah jarang menyediakan, ya pastinya dikarenakan Keberadaan Kepala Sekolah di Kota dengan alasan menunggu dana Sekolah. Ketika dana sekolah sudah didapatkan ada lagi masalah lain yaitu Kepala sekolah tidak bisa mengolah baik keuangan sekolah. Ketika di Sekolah di Distrik saya juga menemukan permasalahan yang sama dengan kinerja Guru Honor di Kampung Fuau. Lebih banyak hari Libur disbanding hari aktif belajar. Saya mengatakan bahwa manajemen Pendidikan di Memberamo sangat kacau.
Tepat tanggal 12 –22 Desember 2018, kami berkunjung ke Pedalaman Kampung Biri yang merupakan bagian dari Memberamo juga, tempat Ibu Djenny Balla melayani. Disana sekolah hanya ada gedungnya saja tetapi yang menjalankan sekolah tidak ada. Kasus pendidikan menyeluruh sama. Kerinduan masyarakat Memberamo yaitu anak-anak mereka bisa sekolah menempuh pendidikan yang layak sesuai dengan UUD 1945.
Ibu Djenny Balla adalah pelayan setia yang kurang lebih 25 tahun memberi hidupnya untuk Memberamo. Bu Djenny menjadi tokoh inspirasi bagi saya, selama saya ditempat pelayanan bu Djenny, saya sangat bangga mengenalnya. Banyak hal yang sudah dikorbankan demi pelayanannya. tenaga, keluarga, masa hidupnya hingga masa tuanya yang saat ini dipakainya untuk melayani di Memberamo. Saya juga berharap ada Guru yang bisa membantunya disana untuk anak-anak dikampung biri. Saat ini tidak ada gedung gereja di kampung Biri, mereka memakai gedung sekolah yang sudah rusak untuk beribadah setiap minggu.

Anak-anak dikampung Biri tidak pernah sekolah, mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia, saat kami disana, kami cukup kesulitan untuk mengajari anak-anak, dan kami memakai waktu singkat kami untuk memahami Bahasa mereka dan mengajak mereka belajar bersama.


Saya juga akan menyinggung beberapa anak yang cukup bisa diandalkan kepandaiannya. Beberapa anak yang sangat bagus mulai dari daya tangkap, daya ingat, karakternya yang bagus yang cocok menjadi teladan juga bagi anak-anak lain.
Penina Guani yang merupakan anak dari Pak Bastian Guani (pelayan setia yang memberi hati untuk melayani di kampung Fuau di Gereja GIDI,tamatan STAKIN Sentani). Penina sekarang duduk di bangku kelas VI SD, anaknya sangat mudah diarahkan, pintar, karakternya bagus. Dan merupakan anak yang memiliki peringkat paling tinggi dari semua anak di Sekolah Kampung Fuau. Cita-citanya adalah menjadi seorang Missionaris dan Guru Pedalaman. Penina memiliki kerinduan untuk seperti Ayahnya yang setia melayani Tuhan. Hobbynya membaca alkitab dan belajar.
Saya hanya mengambil satu orang anak sebagai perwakilan dari banyak anak. Saya mengakui begitu banyak perkembangan anak-anak saat ini. Tidak susah mengajak mereka belajar, justru mereka yang mengajak saya untuk tetap belajar bersama-sama.  Mereka memiliki kebiasaan bercerita dan membantu saya memasak dirumah. Ketika bernyanyi suara mereka sangat menyentuh hati. Anak-anak pernah menyampaikan kepada saya bahwa mereka ingin tetap bisa merasakan pendidikan yang lebih baik ke depan dan berdoa agar Tuhan selalu campur tangan dengan setiap usaha mereka. Saya sangat bersyukur memiliki mereka hingga saat ini berada dan masuk dalam kehidupan mereka.


B. Kesehatan
Berikut saya akan menjabarkan sedikit mengenai keadaan kesehatan masyarakat di Kampung Fuau-Memberamo. Terdapat 1 gedung Posyandu yang tidak pernah dihuni oleh bagian kesehatan. Sehingga gedung itu sekarang kami Guru pakai untuk tempat tinggal di Kampung Fuau. Sekian puluh tahun tidak pernah merasakan pelayanan perawat ataupun suster di Kampung Fuau. Mulai dari Ibu melahirkan, anak-anak sakit parah, orang tua hingga sampai kakek nenek.

Saya menemukan banyak kejadian disana dalam setahun.
1. Seorang anak bayi bernama Feby yang umur 3tahun meninggal dunia karena dehidrasi dan step atau reaksi kejang. Dalam tiga hari lamanya tidak bisa makan dan minum karena keadaan yang semakin memburuk. Orang tua hanya bisa menangisi nasib anaknya tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan akhirnya harus menyelesaikan masanya di dunia ini dengan umurnya yang singkat.
2. Saudara Saya Andika sekaligus rekan saya mengajar di Kampung Fuau mengalami penyakit malaria tropica +4. Menunggu seminggu lamanya hingga akhirnya bisa dijemput pihak penerbangan Yajasi untuk dibawa ke Sentani.
3. Bapak Daniel Guani, yang merupakan tokoh penting di Kampung dan ayah dari 8 orang anak, meninggal dunia karena diserang Babi Hutan saat berburu di Hutan hingga kehabisan darah. Kini sang Istri yang berjuang sendiri dengan keadaan hamil untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
4. Dorkash Guani yang Ibu dari satu orang anaknya yang umur anaknya 2tahun meninggal dunia karena gigitan ular berbisa saat tokok sagu dihutan.
5. Teteh (Kakek) Herman mengalami sakit parah karena infeksi luka yang sudah lama dibiarkan karena serangan binatang buas.
6. Semua warga Kampung mulai dari Bayi hingga Dewasa yang ketika sakit tidak pernah dibantu oleh perawat. Masa anak-anak yang belum pernah merasakan namanya Imunisasi.
Poin-poin diatas adalah paling sedikit dari banyaknya kejadian yang mereka saksikan dan alami sendiri. Banyak resiko yang mereka tanggung ketika untuk mempertahankan hidupnya dengan menikmati hasil alam. Anak-anak yang sudah kehilangan orang tua, sakit tanpa ada perawatan dari Bidan.


C. Pelayanan Gereja
Kampung Fuau memiliki dua gereja yaitu gereja GIDI dan GKI. GIDI digembalakan oleh Bapak Yahya Wau dan dibantu oleh Bapak bastian Guani. Mereka adalah pelayan yang setia, dan tidak pernah terpikirkan mereka sedikitpun untuk melepaskan diri dari pelayanan itu, sudah melekat dengan hati mereka. Gereja GIDI gedungnya sudah sangat lama dan perlu diperbaiki. Saya ingat kerinduan yang sering Pak Bastian ungkapkan yaitu perbaikan gedung gereja dan memiliki penutup altar gereja. Andika juga membantu dalam pembagian Firman digereja dan saya membantu menangani anak-anak sekolah minggu.
Sedangkan Gereja GKI digembalakan oleh Bapak Filemon Wau yang merupakan warga asli Fuau juga. Dalam kasus baru-baru ini, Gereja GKI sedang tahap pembangunan dengan dana pemerintah akan tetapi pembangunan harus berhenti dikarenakan penggelapan dana pembangunan oleh pihak proyek pengerja. Hingga saat ini masih berhenti dan tidak bisa dilanjutkan pembangunannya.
D. Manajemen Desa
Kejadian-kejadian yang baru-baru ini terjadi yaitu Kepala Desa yang tidak menggunakan Dana Desa dengan sebaik-baiknya. Memilih lebih banyak menghabiskan waktunya di kota juga. Dana Desa yang sangat besar sekali tetapi tidak ada wujud pembangunan dan perubahan yang terjadi di Kampung Fuau. Mulai dari pembangunan jalan, gedung perangkat desa, pemenuhan bantuan transportasi dan pembangunan Gereja bantuan dari pemerintah itu tidak terjadi apa-apa.
Saya mendapat pengakuan sebagian warga ketika warga ingin mengadakan pergantian Kepala Desa, akan tetapi Kepala Desa tidak mau diganti dan mengancam warga dengan banyak hal. Sebagai masyarakat yang buta huruf dan kurangnya pendidikan membuat mereka berjalan dengan waktu dan kejadian didepan mata tanpa tahu harus bagaimana mereka menyikapi masalah-masalah di Kampung mereka.

Permasalahan itu menjadi permasalahan yang paling menonjol yang saya temukan. Berharap banyak kalangan yang bisa memberi hati untuk membantu pendididikan anak-anak, kesehatan dll di Kampung Fuau dan Pedalaman Memberamo lain. Mereka sangat kesulitan dalam banyak hal. Mandi tanpa sabun, mau cuci baju tapi terbatas baju cadangan untuk ganti. Anak-anak sekolah tidak banyak pakai seragam dan dengan fasilitas buku yang sangat terbatas.
Berharap pemerintah lebih membuka mata untuk tempat-tempat yang terisolir yang di sekelilingnya banyak oknum-oknum yang mementingkan kepentingan pribadi dibanding kepentingan rakyat. Sekian kesaksian dari pengalaman saya selama di Memberamo sepanjang 2018, Tuhan memberkati setiap pelayanan-pelayanan diseluruh pelosok Negeri khususnya di Papua dan terlebih khususnya di Pedalaman Memberamo.  Sekian dan Terimakasih. Tuhan Memberkati.



Minggu, 24 Juni 2018

History 💜

Apa yang tidak pernah terpikirkan itu kadang terjadi dalam kehidupan saya. Saya Nia paramita Tobing tentunya pasti tau kalau saya wanita darah batak yang bermarga. Saya berasal dari keluarga sederhana dan saya sangat bahagia karena satu hal yaitu keluarga saya mengenal Tuhan Yesus dan percaya sepenuhnya terhadap Tuhan Yesus. Sejak kecil saya memiliki hati dalam pelayanan dalam Tuhan akan tetapi karena banyak faktor saya tidak bisa memenuhi keinginan saya. Dari sekolah dasar hingga menengah atas itu tanggung jawab yang ingin orangtua penuhi terhadap saya. Setelah tamat SMA saya ada rasa takut untuk sampaikan keinginan melanjutkan pendidikan saya sampai perguruan tinggi. Tapi banyak cara yang Tuhan lakukan untuk menjawab keinginan keinginan saya. Dengan keadaan berkekekurangan dan dengan kondisi sebagai anak bungsu saya memiliki kakak dan abang yang belum pernah menginjakkan kaki hingga perguruan tinggi akan tetapi inilah cara Tuhan membentuk saya menjadi pribadi yang mensyukuri dan Puji Tuhan keluarga dan Tuhan memberi saya kesempatan untuk melanjutkan keinginan saya dengan lulus masuk Perguruan tinggi negeri di Universitas Riau-Pekanbaru.
Dalam pendidikan saya banyak rintangan yang saya hadapi, kekurangan financial dan tekanan dari keluarga kadang menjadi pemicu drop dalam pikiran saya. Berkat Tuhan Yesus dan berkat teman-teman dan senior-senior saya banyak mendukung saya dalam proses pendidikan saya, saya sanggup memaluinya hingga tahap wisuda. 4tahun saya selesaikan pendidikan Sarjana saya dan saya berpikir tidak ingin menjadi beban buat orang tua dan keluarga saya dengan cara apapun saya harus bisa mandiri dan memenuhi kehidupan saya sendiri dan terutama bisa bantu orang tua dan keluarga saya. Puji Tuhan tahun 2016 awal saya dapat pekerjaan di Pekanbaru Juga dan selama 2tahun saya bekerja di MNC dan bisa memenuhi kehidupan saya dan membantu orangtua saya dan tidak lupa saya selalu mengucap syukur akan Tuhan yesus. Saya sangat mencintai semua situasi yang Tuhan izinkan dalam kehidupan saya baik buruk maupun senang. Banyak cobaannya menjadi pelajaran besar buat saya.
Hingga tahun 2018 Tuhan mengizinkan saya untuk lebih dekat dan pengenalan saya terhadapNya. Saya memilih melayani di PAPUA. Memberi hati untuk anak-anak pedalaman Papua dan mengenalkan mereka akan Tuhan Yesus. Ini pekerjaan paling luar biasa buat saya. Walapun banyak sekeliling saya tidak setuju dengan pelayanan saya tapi saya benar-benar memberi hati saya buat Tuhan Yesus. Menjadi berkat buat anak Papua melalui pelayanan saya padaNya.
Satu ayat yang menjadi motivasi buat saya di matius 6:33, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkam kepadamu.

Minggu, 11 Februari 2018

Kampung Fuao tepat berada di area Membramo Hulu Kab. Membramo Raya Prov.Papua Indonesia.
Salah satu kampung terdalam di negeri tercinta Negara indonesia. Menjadi seorang Guru bagi mereka menjadi suatu anugerah terbesar dalam hidupku. Menjadi tanggung jawab besar untuk mengayomi mereka. Dengan banyak keterbatasan dari segala aspek segala sesuatunya masih bisa berjalan untuk mendidik mereka dan untuk meraih impian mereka. Karena mereka juga layak seperti anak- anak lain. Mereka pantas mendapatkan itu. Banyak hal yang mereka lakukan untuk dapat bertahan hidup ya itu menggantungkan hidup mereka pada hasil alam. Kurangnya perhatian pemerintah atas mereka.
Dunia pendidikam mereka sangat jauh ketinggalan dibanding yang lain. Gedung sekolah hanya terdapat 2 gedung saja dimana anak murid keseluruhannya ada lebih 70  orang. Mereka tidak mengenal huruf, angka, dan tidak bisa berhitung dan membaca. Awal berada disana bersama mereka ini adalah harusnya tugas pemerintah, yah pastinya tugas pemerintah yang tidak tuntas. Pemerintah kita tidak lihat ini,  untuk bantuan medis atau obat2an disana mereka tak punya dan pastinya jika ada warga sakit hanya menunggu takdir atau harapan pada Tuhan. Tidak ada pertolongan medis yang mereka dapatkan.

Kamis, 09 April 2015

Civic Education Universitas Riau Angkatan 2011

Kami memang berbeda, mulai dari daerah, suku, adat, bahasa, rupa dan sifat tapi di sini kami satu, satu tujuan dan cita2 untuk sama2 mengejar impian menjadi sukses d masa depan.. universitas RIAU ini menjadi saksi perjuangan kita kawan, ketika kita sama2 mulai mengenal dunia kampus hingga kita akan selesai nanti. 4 tahun sudah kita bersama, duduk dan berada d satu ruangan, belajar dan bercerita, menghadapi masa2 sulit, dan ada kalanya menangis dan tertawa bersama, besar harapan kita lulus d tahun yg sama tahun ini 2015 ,, melempar toga bersama dan kembali berpose d depan rektorat universitas RIAU kebanggaan kita,, Aamiin,, 




Minggu, 29 Maret 2015

Aku Tak Minta Banyak Hal, Tuhan

: Aku Tak Minta Banyak Hal, Tuhan: Tuhan... selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat malam. Aku tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Ataukah mu...

Kamis, 26 Maret 2015

Ibu


Kau ajar aku memetik gitar kehidupan 

agar tercipta kasih yang lama tak kudendangkan

kau yang ajari aku mengeja nama Tuhan 

Tahukah kamu?
semua itu membuat kekagumanku besar untukmu

Kau ijinkan aku duduk di beranda hatimu

untuk melihat apa yang tersimpan disana
dan mengambil sebongkah cinta untukmu


Kau yang ajari aku sisa hidup

menghitung karunia yang tak terhingga