Menghabiskan
hari-hari bersama anak-anak tidaklah membuat kita menjadi pribadi yang salah
arah, tetapi kita bisa menemukan kesenangan setiap hari. Ya seperti anak-anak
pada umumnya, tidak memikirkan banyak beban, hanya perlu bersenang-senang dan
menikmati tawa setiap saat bersama teman-teman baik di lingkungan sekolah
maupun rumah. Bersama anak-anak kita juga merasakan kasih anak itu terhadap
kita. Jika mungkin anda Tanya, saya terlalu pede untuk mengatakan bahwa anak itu
mengasihi kita, buktinya untuk apa dia repot-repot mau tetap bergabung setiap
saat dan mengajak tertawa bersama dan bahkan tidak ada tanda bahwa anak akan
menyakiti kita? Bukankah menerima itu adalah kasih.
Anak
lebih dan sangat lebih polos dibandingkan kita yang dewasa, jika anak tidak
suka, dia akan menunjukkan rasa tidak suka. Beda dengan kita orang dewasa,
banyak yang menyembunyikan rasa tidak suka dan berpura-pura senang padahal
tidak senang. Jika anda membaca ini, anda bisa menilai diri anda sendiri.
Karena saya mengatakan ini berdasarkan pengalaman diri saya sendiri, saya pikir
anda juga pernah.
Tidak
bisa saya pastikan bahwa tawa anak itu masih berlanjut di dalam rumah, tapi
yang saya tahu mereka masih tetap bisa menunjukkan tawa bahagia mereka bersama
saya.
Saya
punya satu ilustrasi tentang seorang anak asli anak pedalaman, tepatnya di
tempat saya melayani dan mengajar di Papua (Kampung Fuau). Namanya Yohana,
kira-kira umurnya 6 tahun. Pertama sekali saya bertemu dia, saya mengenalnya
sosok anak yang suka tertawa dan dia membuat saya semakin tertarik dengan
kepribadian Yohana yang ceria.
Hingga
suatu ketika saya memiliki kesempatan bercerita dengan masyarakat di kampung,
saya menanyakan bagaimana latar belakangnya Yohana . Dan ternyata Yohana bukan anak kandung dari orang tua yang
tinggal dengannya, tetapi dia adalah seorang anak angkat yang di titipkan ke
keluarganya. Maksudnya, seorang Bapak mengandopsi Yohana dari keluarga kampong seberang, dan si Bapak ini bukannya
merawat anak dengan baik, akan tetapi menitipkan ke keluarganya. Istilahnya
anak adopsi di adopsi lagi. Hingga yang saya dengar di dalam rumahnya dia anak
yang tidak diperhatikan oleh siapapun. Keluarga yang bersama dia tidak
memperlakukannya dengan kasih, malah membuatnya menjadi anak yang setiap hari
tertekan. Yang kebetulan tempat Yohana tinggal berdekatan dengan tempat saya
tinggal, hampir setiap hari saya sering mendengarnya dipukuli dan menangis,
bahkan sanggup menangis hingga pagi. Saya pikir siapakah yang malang disini ?
anak yang malang atau orang tua yang malang ? atau apa saja, dan banyak yang
menjadi pertanyaan dalam hati saya.
Jujur,
saya sangat tidak kuat ketika mendengar tangisan Yohana yang terdengar setiap
hari bahkan malam. Saya rasa ingin pergi ke rumahnya dan memeluknya dan ingin
mengatakan bahwa saya sangat mengasihi dia. Saya tahu bahwa tidak ada yang
benar-benar mau mengungkapkan kasih ke Yohana. Tapi saya sering mengatakan
padanya bahwa Tuhan Yesus lebih dan lebih mengasihi Yohana. Saya bisa melihat
senyumnya dan bisa mendengar tawanya ketika dia berada diluar rumah. Saya bisa
bayangkan bagaimana ketika saya menjadi Yohana, mungkin saya akan berpikir
bagaimana caranya supaya saya bisa menghabiskan waktu saya diluar rumah. Karena
di luar rumah membuatnya lebih nyaman dan lupa akan rasa sakit dan tindasan
keluarga ketika di dalam rumah.
Saya
bisa lihat seorang anak juga behasil menyimpan rasa sakitnya sendiri dan tidak mengumbar rasa sakit itu ke
orang lain. Kita orang dewasa saja yang sering menyembunyikan rasa sakit
sendiri, pasti kita akan mengatakan bahwa semakin kita menyimpannya sendiri,
maka rasa sakit itu akan menyakiti kita. Bagaimana dengan Yohana dan anak yang
lainnya yang merasakan nasib yang sama?
Kita
dewasa masih memiliki banyak pertimbangan dan pemikiran yang lebih luas
dibanding anak. Kita akan mencari teman untuk berbagi bahkan kita akan
melibatkan keluarga kita juga. Tetapi
bagaimana dengan Yohana-Yohana yang diluar sana, kepada siapa mereka mengadu?
Siapa yang membujuk mereka ketika merajuk, siapa yang merawat mereka ketika
merasa sakit? Sesungguhnya masa anak-anak adalah masa yang tepat untuk
menikmati kasih sayang itu dari orang tua dan keluarga.
Saya
sangat beruntung memiliki orang tua yang memperjuangkan saya sangat baik,
menyayangi saya sepenuh hati walau dalam
situasi yang sulit. Dan saya tidak
menyesali hal-hal yang sudah saya lewati, bahkan sekalipun keluarga saya tidak
mampu, tetapi saya memiliki cinta dan kasih dari keluarga saya. Melalui mereka
saya mengenal Tuhan, dan mengetahui bahwa kasih Tuhan yang mereka terima itu
yang mereka berikan buat saya. Oh betapa sangat manisnya bukan ? Kasih Tuhan
memang sangat berpengaruh besar bagi keluarga saya dan saya secara pribadi.
Saya
tau Yohana tidak bisa menerima kasih dari keluarganya secara utuh, tapi saya
tahu bahwa Tuhan telah memakai orang sekitarnya dan saya untuk memberikan dan
mengenalkan kasih Tuhan akan dia.
Secara
tidak sadar kita tidak mengetahui bahwa Tuhan sering memakai kita menjadi
alatNya untuk menolong orang lain. Kasih yang kumiliki sekarang dan kasih yang
anda miliki sekarang itu adalah Kasih
yang sudah Tuhan tanamkan dalam hati kita.
Saya
pikir, jika saya tidak memiliki kasih Yesus, saya tidak akan mau repot-repot
untuk datang ke pedalaman ini untuk menolong anak-anak dan masyarakat disini.
Tapi mungkin saya akan memilih menikmati kehidupan enak di luar sana dan
bersenang-senang untuk kepentingan sendiri.
Tapi
Kasih Tuhan membuat saya dan anda semakin peka akan suara Tuhan, dan memahami
akan tugas dan tanggung jawab sebagai anak yang dikasihi Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar