Sabtu, 14 Maret 2020

KASIH TUHAN MEMILIKI DAMPAK BESAR



 

Menghabiskan hari-hari bersama anak-anak tidaklah membuat kita menjadi pribadi yang salah arah, tetapi kita bisa menemukan kesenangan setiap hari. Ya seperti anak-anak pada umumnya, tidak memikirkan banyak beban, hanya perlu bersenang-senang dan menikmati tawa setiap saat bersama teman-teman baik di lingkungan sekolah maupun rumah. Bersama anak-anak kita juga merasakan kasih anak itu terhadap kita. Jika mungkin anda Tanya, saya terlalu pede untuk mengatakan bahwa anak itu mengasihi kita, buktinya untuk apa dia repot-repot mau tetap bergabung setiap saat dan mengajak tertawa bersama dan bahkan tidak ada tanda bahwa anak akan menyakiti kita? Bukankah menerima itu adalah kasih.
Anak lebih dan sangat lebih polos dibandingkan kita yang dewasa, jika anak tidak suka, dia akan menunjukkan rasa tidak suka. Beda dengan kita orang dewasa, banyak yang menyembunyikan rasa tidak suka dan berpura-pura senang padahal tidak senang. Jika anda membaca ini, anda bisa menilai diri anda sendiri. Karena saya mengatakan ini berdasarkan pengalaman diri saya sendiri, saya pikir anda juga pernah.
Tidak bisa saya pastikan bahwa tawa anak itu masih berlanjut di dalam rumah, tapi yang saya tahu mereka masih tetap bisa menunjukkan tawa bahagia mereka bersama saya.
Saya punya satu ilustrasi tentang seorang anak asli anak pedalaman, tepatnya di tempat saya melayani dan mengajar di Papua (Kampung Fuau). Namanya Yohana, kira-kira umurnya 6 tahun. Pertama sekali saya bertemu dia, saya mengenalnya sosok anak yang suka tertawa dan dia membuat saya semakin tertarik dengan kepribadian Yohana yang ceria.
Hingga suatu ketika saya memiliki kesempatan bercerita dengan masyarakat di kampung, saya menanyakan bagaimana latar belakangnya Yohana    . Dan ternyata Yohana bukan anak kandung dari orang tua yang tinggal dengannya, tetapi dia adalah seorang anak angkat yang di titipkan ke keluarganya. Maksudnya, seorang Bapak mengandopsi Yohana dari keluarga  kampong seberang, dan si Bapak ini bukannya merawat anak dengan baik, akan tetapi menitipkan ke keluarganya. Istilahnya anak adopsi di adopsi lagi. Hingga yang saya dengar di dalam rumahnya dia anak yang tidak diperhatikan oleh siapapun. Keluarga yang bersama dia tidak memperlakukannya dengan kasih, malah membuatnya menjadi anak yang setiap hari tertekan. Yang kebetulan tempat Yohana tinggal berdekatan dengan tempat saya tinggal, hampir setiap hari saya sering mendengarnya dipukuli dan menangis, bahkan sanggup menangis hingga pagi. Saya pikir siapakah yang malang disini ? anak yang malang atau orang tua yang malang ? atau apa saja, dan banyak yang menjadi pertanyaan dalam hati saya.
Jujur, saya sangat tidak kuat ketika mendengar tangisan Yohana yang terdengar setiap hari bahkan malam. Saya rasa ingin pergi ke rumahnya dan memeluknya dan ingin mengatakan bahwa saya sangat mengasihi dia. Saya tahu bahwa tidak ada yang benar-benar mau mengungkapkan kasih ke Yohana. Tapi saya sering mengatakan padanya bahwa Tuhan Yesus lebih dan lebih mengasihi Yohana. Saya bisa melihat senyumnya dan bisa mendengar tawanya ketika dia berada diluar rumah. Saya bisa bayangkan bagaimana ketika saya menjadi Yohana, mungkin saya akan berpikir bagaimana caranya supaya saya bisa menghabiskan waktu saya diluar rumah. Karena di luar rumah membuatnya lebih nyaman dan lupa akan rasa sakit dan tindasan keluarga ketika di dalam rumah.
Saya bisa lihat seorang anak juga behasil menyimpan rasa sakitnya  sendiri dan tidak mengumbar rasa sakit itu ke orang lain. Kita orang dewasa saja yang sering menyembunyikan rasa sakit sendiri, pasti kita akan mengatakan bahwa semakin kita menyimpannya sendiri, maka rasa sakit itu akan menyakiti kita. Bagaimana dengan Yohana dan anak yang lainnya yang merasakan nasib yang sama?
Kita dewasa masih memiliki banyak pertimbangan dan pemikiran yang lebih luas dibanding anak. Kita akan mencari teman untuk berbagi bahkan kita akan melibatkan keluarga kita juga.  Tetapi bagaimana dengan Yohana-Yohana yang diluar sana, kepada siapa mereka mengadu? Siapa yang membujuk mereka ketika merajuk, siapa yang merawat mereka ketika merasa sakit? Sesungguhnya masa anak-anak adalah masa yang tepat untuk menikmati kasih sayang itu dari orang tua dan keluarga.
Saya sangat beruntung memiliki orang tua yang memperjuangkan saya sangat baik, menyayangi saya sepenuh hati  walau dalam situasi yang sulit.  Dan saya tidak menyesali hal-hal yang sudah saya lewati, bahkan sekalipun keluarga saya tidak mampu, tetapi saya memiliki cinta dan kasih dari keluarga saya. Melalui mereka saya mengenal Tuhan, dan mengetahui bahwa kasih Tuhan yang mereka terima itu yang mereka berikan buat saya. Oh betapa sangat manisnya bukan ? Kasih Tuhan memang sangat berpengaruh besar bagi keluarga saya dan saya secara pribadi.
Saya tau Yohana tidak bisa menerima kasih dari keluarganya secara utuh, tapi saya tahu bahwa Tuhan telah memakai orang sekitarnya dan saya untuk memberikan dan mengenalkan kasih Tuhan akan dia.
Secara tidak sadar kita tidak mengetahui bahwa Tuhan sering memakai kita menjadi alatNya untuk menolong orang lain. Kasih yang kumiliki sekarang dan kasih yang anda miliki sekarang itu  adalah Kasih yang sudah Tuhan tanamkan dalam hati kita.
Saya pikir, jika saya tidak memiliki kasih Yesus, saya tidak akan mau repot-repot untuk datang ke pedalaman ini untuk menolong anak-anak dan masyarakat disini. Tapi mungkin saya akan memilih menikmati kehidupan enak di luar sana dan bersenang-senang untuk kepentingan sendiri.
Tapi Kasih Tuhan membuat saya dan anda semakin peka akan suara Tuhan, dan memahami akan tugas dan tanggung jawab sebagai anak yang dikasihi Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar