Masalah ataupun
pergumulan itu yang menjadi topik pemikiran tiap-tiap orang, tanpa ditanya pun
itu bahkan kita sudah tahu sendiri bahwa setiap orang punya masalah dan
pergumulan masing-masing. Ada yang merasa bahwa hidupnya paling menyedihkan,
banyak keluhan, banyak tangisan bahkan amarah yang tak mampu untuk dikendalikan
saat merasakan bagaimana sulitnya memikirkan masalahnya.
Yah, kita bawa topik
ini kedalam ceritaku. Yah sebut saja namanya Maria (nama samaran). Tidak
terlalu banyak orang yang mengenalnya, tapi banyak menyebutnya seorang gadis
yang baik yang bisa diajak jadi teman baik, entah mungkin hanya sekedar pujian
teman-temannya saat bersamanya atau hanya mengambil perhatiannya. Maria
bukanlah orang yang berada atau yang berasal dari keluarga kaya yang memiliki
segalanya yang bisa memenuhi setiap kebutuhannya. Dia berasal dari keluarga
yang sederhana, kadang berkecukupan atau bahkan kekurangan. Sudah menjadi hal
biasa jika dia menginginkan sesuatu tapi belum bisa terpenuhi.
Menjadi anak bungsu dari
7 bersaudara banyak tanggung jawab yang harus dilakukan, tinggal bersama orang
tua dikampung, sendiri membantu orang tua dirumah. Yah namanya anak bungsu
selalu yang terakhir menemani masa tua orang tua, saudara-saudara yang sudah
pergi melanjutkan hidupnya diperantauan masing-masing. Dimana Ayah yang sudah
duluan menghadap sang Maha Kuasa setelah berjuang dengan penyakitnya
bertahun-tahun. Ayah terbaik yang tak tergantikan oleh siapapun, yang tak
pernah marah, baiknya baik banget hingga mungkin semua orang menganggap dia
sosok yang bodoh karena terlalu baik sama semua orang. Tapi bagi Maria dia ayah
terhebat. Mama mungkin menyebutnya anak kesayangan Ayah. Ingat disaat bersama,
masak makanan favoritnya ada sambel terong pedes, nasi goreng, pokoknya paling
top markotop tak ada yang menandingi enaknya masakannya. Yang pasti Dia ayah
yang tak terlupakan. Satu pesan buat ayah, Love u dan selalu merindukanmu.
Itu sekilas tentang alm
Ayah, kini tinggal duet alias berdua dengan sang mama, mama paling kuat, kerjaan
apapun mampu dilakukannya. Hingga masa-masa tuanya pun belum bisa merasakan
senangnya hidup. Lelah itu, itu yang selalu terpancar dari wajahnya, tapi
banyak rasa ucapan syukur dalam hatinya. Mengolah sawah, bahkan apapun kerjaan
itu mampu dilakukannya asalkan kebutuhan anak-anaknya bisa terpenuhi. Masih
jauh tersimpan dilubuk hati Maria saat-saat mendengar ucapan doa di malam dan
pagi hari mama yang selalu berseru memanggil nama Tuhan, ucapan tangisan itu
yang tak bisa terlupakan. Semua rasa lelah hati dan batinnya terucap dalam doa
nya. Air mata itu, yah air mata itu yang tak sanggup rasanya untuk dibayangkan.
Ingin memeluknya tapi apalah daya, dengan berpura-pura tidur sambil mendengar
doa jeritan mama. “Tuhan, apa Tuhan tak pernah mendengar tangisan mama, jeritan
mama, rasa lelah itu, rasa sakit mama. Mama terhebat yang tak pernah lupa
mengucap syukur walaupun mengalami beban berat, dimana Engkau Tuhan, dengarkan
seruan mama” hanya itu yang mampu terucap dalam hati dan sangat membekas
dalam-dalam. Doa dan usaha , hanya itu yang mampu dilakukan saat ini. Doa
mengubah segala sesuatu, dan semua indah akan indah pada waktunya. Hidup ya
namanya hidup, harus dijalani bagaimanapun keadaannya, hanya doa yang
mengiringi setiap langkah perjalanan itu.
Tahun 2011 masa
perjuangan di sekolah telah berakhir dan akan melanjutkan perjuangan hidupnya
yang selanjutnya. Atas izin si mama dan kakaknya yang jauh disana, Maria
mencoba mengambil langkah ke dunia perguruan tinggi. Atas izin Tuhan telah
lulus di salah satu perguruan tinggi negeri Indonesia yang letaknya disebut
jauh dari kampong halaman. Dengan doa dan restu keluarga dia berangkat menuju
perjuangan awal menuju dunia pendidikan yang baru. Menahan air mata si mama
memberangkatkan anaknya dengan ketulusannya.
Dunia baru yah sebut
saja tempat tinggal baru, lingkungan baru, teman teman baru, keadaan baru,
perjuangan baru yang harus dilakukan. Menjadi tanggung jawab besar untuk
menempuh pendidikan di negeri orang. Menjadi awal bagi Maria menjadi seorang
anak rantau yang tinggal tanpa didampingi sanak ataupun keluarga, tanpa mama.
Sangat janggal menjalaninya, ada rindu ada tangis dan rasa ingin pulang bertemu
mama yang kini tinggal sendiri di rumah yang juga memulai pekerjaan berat
dengan tanggung jawab baru untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang kini berstatus
mahasiswa di negeri orang. Semoga menjadi anak yang selalu sayang orang tua dan
keluarga, tau diri, rendah hati, tau akan bagaimana susahnya hidup dan ta lupa
selalu mengucap syukur saat keadaan semakin berat.
Merindu
Itu yang sering terucap
dalam hati, rindu mama, rindu bareng-bareng kerja demi mendapatkan sesuap
nasi.menghadang cangkul bareng dan melangkahkan kaki ke rawa-rawa mengolah
sawah berdua bahkan berdebat berdua dengan aktivitas berdua. Merindukan itu semua,
tidur berdua selalu, makan berdua, ibadah baca kitab dan doa bersama, latihan
nyanyian berdua. Sekilas membahas nyanyian hanya satu nyanyian yang membekas
dalam hati.
Masih ingat lagu Buku
Ende No 458 “Barita na Ummuli i”
Barita na ummuli i
Nasian Tuhan Yesus
Ai ido margogoihon au
Nang arsak pe hubolus
Ai dang adong di
rohakki
Naso hinilala na
Ditanda hagaleonki
Nangpe sai tung marsala
On mangapuli rohakki
Ai Tuhanki nabasai
Do donganki
Artinya (berita firman
dari Tuhan yang menguatkan aku walaupun beban berat yang kulalui, tak ada yang
di dalam hati yang tak dirasakanNya, Dia mengenal kelemahanku walaupun saat aku
berbuat salah, hanya firman itu yang mengobati perasaanku,karena Tuhanku yang
baik dan besar yang menjadi sahabatku).
Tak lupa dan pastinya
tak hilang dari memori. Saat merasakan beban berat dengan menyanyikannya akan
terasa lepas rasa rindu dan tenangkan jiwa.
Hingga menginjak di
semester akhir banyak masa-masa sulit yang dihadapinya, banyak deraian air mata
dengan kesulitan yang dirasakannya, terpendam dalam-dalam di hati. Menyimpan
rasa sakit, berdoa kepadaNya memohon ampun dan petunjukNya. Si mama yang jauh
dikampung menjalani hidupnya dengan kesendirian, masa tua yang menyedihkan, tak
ada satupun yang menemaninya disana, merindukannya, ingin secepatnya
membahagiakannya, tak ingin melukai hatinya. Banyak cara yang dilakukannya
untuk mengabulkan segala kebutuhan.
Linangan air mata yang
mampu terungkap saat mendengar kabarnya yang semakin tua, tak ingin membuatnya
bersedih.
Dalam hati maria “ma,
panjang umur ya mak, sehat-sehat ya mak,doakan aku bisa membahagiakan mama
secepatnya. Tak ingin membiarkan mama sesedih itu, sesakit itu, dari kecil
hingga masa tuamu hanya perihnya hidup yang mama rasakan. Banyak pergumulan
yang kusimpan disini ma, tak ingin mengungkapkannya lagi, tak ingin menjadi
beban mama, tak ingin membuat mama merasa kecewa dengan keluhanku lagi. Apa
yang kupikirkan entah bagaimana dan kapan aku bisa mengatasinya. Berserah
padaNya, berdoa padaNya, hanya itu yang mampu kulakukan. Maafkan aku ma membuat
mama semakin merasakan sakitnya hidup. Semoga Tuhan berkehendak atas setiap
rencana . amin “
Air mata itu sontak
mengalir dipipi maria, membayangkan mama dengan kesendiriannya. Berdoa memohon
ampun kepada Tuhan untuk perlindunganNya atas mama. Aminn
Sekian sedikit cerita
dengan nama samaran tadi (Maria), ini pengalamannya benar-benar nyata. Yang
mengajarkan bagaimana arti bersyukur, bertahan dalam namaNya dan berpegang
teguh padaNya.
“Carilah dahulu
kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkanNya
kepadamu” Matthew 6 :33
Salam : Nia Paramita
Lumban Tobing
Facebook : mitha.tobink@yahoo.com (Nia Paramita
Lumban Tobing)
Follow Twitter :
@NiaTobink (Nia Paramita Tobing)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar